Sentuhan Perawat kepada Warga Jepang

Published by forkitajp on

Program EPA

  • Program EPA (Economic Partnership Agreement) merupakan program pertama yang dibuka oleh pemerintah Jepang yang membolehkan perawat asing bekerja di Jepang. Program ini merupakan program kerjasama antarpemerintah dan dimulai pada tahun 2008.
  • Saat ini, terdapat program lain yang memungkinkan perawat Indonesia bekerja di Jepang, yaitu program Ginojishusei. Pada program ini, perusahaan Jepang yang ingin menggunakan jasa perawat Indonesia dapat langsung mendatangi sekolah atau universitas di Indonesia.
  • Pada tahun 2018 (angkatan ke-11), Kemenkes mengirim 525 perawat ke Jepang melalui Program EPA. Pada angkatan ke-8, jumlah perawat yang berangkat ke Jepang sebanyak 328 orang. Jadi, jumlah permintaan perawat Indonesia di Jepang cukup tinggi.
  • Sebelum berangkat ke Jepang, peserta EPA akan mendapat pembekalan Bahasa Jepang selama setahun, 6 bulan di Indonesia dan 6 bulan di Jepang (Tokyo, Nagoya, atau Osaka). Setelah itu, perawat akan ditempatkan pada perusahaan.

Kehidupan Sehari-hari Perawat

  • Peserta EPA diperbolehkan untuk mengikuti ujian nasional di Jepang guna memperoleh sertifikat keperawatan di Jepang. Sehingga di sela-sela waktu bekerja, peserta EPA perlu belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian tersebut.
  • Dalam berinteraksi dengan orang Jepang (pasien, keluarga pasien, rekan kerja, atau tetangga), perawat akhwat (perempuan) yang menggunakan kerudung lebih sering mendapat pertanyaan karena perbedaan yang lebih mencolok. Terkadang ada juga pasien yang terpengaruh media dalam menyikapi Islam, sehingga memberi respon yang negatif terhadap perawat muslim.
  • Untuk di lingkungan kerja, perawat perlu memberi penjelasan lebih rinci terkait Islam, seperti jadwal shalat lima waktu atau terkait jadwal shalat Jumat. Perawat yang menjadi muslim pertama di tempat kerja tersebut terkadang menghadapi kesulitan terkait hal ini, berhubung informasi yang diterima dari pihak pemerintah tidak begitu rinci.

Islam di Mata Orang Jepang

  • Islam di mata orang Jepang sering dikaitkan dengan ISIS, teroris, peperangan, Saudi Arabia, serta suni dan syiah.

Kendala Bekerja (Berhubungan dengan Islam)

  • Beberapa perusahan memiliki kebijakan bahwa waktu istirahat hanya di saat makan siang. Hal ini membuat kesulitan untuk melaksanakan shalat ashar. Sementara bagi yang dinas malam, terkadang terdapat kesulitan dalam melaksanakan shalat subuh saat musim tertentu.
  • Untuk Shalat Jumat, banyak perawat yang mengambil libur di hari Jumat. Untuk bisa mengambil libur ini, perlu memberi penjelasan yang baik kepada pihak perusahaan. Karena mengambil libur di hari Jumat, banyak perawat yang masuk kerja di hari Minggu.
  • Puasa sering disalahpahami oleh orang Jepang, dimana orang yang berpuasa dianggap akan mengurangi kekuatannya. Sehingga ada perusahaan yang melarang perawat muslim yang sedang berpuasa untuk memasuki ofuro. Perawat terkadang perlu ke ofuro untuk mengantarkan pasien.
  • Izin libur untuk menikah bagi perawat yang belum lulus ujian nasional kadang ditolak. Hal ini disebabkan oleh cara pandang orang Jepang terkait kemapanan (berani menikah ketika belum lulus ujian, sehingga dianggap belum mapan). Untuk ini, perlu diberi penjelasan yang baik terkait nikah dalam perspektif Islam.
  • Kendala komunikasi dalam menjelaskan Islam karena Bahasa Jepang yang dipelajari lebih untuk keperluan sehari-hari dan istilah terkait pekerjaan.
  • Kurangnya informasi terkait Islam juga memberikan kendala tersendiri. Contohnya, meskipun ayam dan daging sapi bisa dikonsumsi, tapi syarat penyembelihan dalam Islam sering tidak diketahui orang Jepang.
  • Sebagian orang Jepang juga tidak memiliki pengetahuan tentang Islam yang baik. Ada kasus dimana pihak perusahaan melarang perawat muslimah mengenakan kerudung.

Waktu-waktu Interaksi

  • Untuk menjelaskan Islam kepada orang Jepang, khususnya rekan kerja, dapat dilakukan baik saat jam istirahat, jam kerja, maupun di saat acara-acara kantor seperti nomikai, bonenkai, dan ryoko (jalan-jalan).

Cara Penyampaian

  • Untuk menyampaikan tentang Islam kepada orang Jepang, dapat melalui lisan, bantuan senpai atau rekan kerja, konsistensi dalam beribadah, atau dengan mengajak untuk menghadiri kegiatan-kegiatan komunitas perawat muslim di Jepang.
  • Inkonsistensi dalam melaksanakan ibadah dapat membuat kesalahpahaman terhadap Islam, bahkan merubah kebijakan yang sebelumnya memberi kemudahan terhadap pelaksanaan ibadah.

Peluang Dakwah

  • Orang Jepang tidak jarang menerima informasi yang salah tentang Islam. Hal ini menjadi peluang dakwah bagi para perawat karena bisa memberikan informasi yang sebenarnya.
  • Orang Jepang yang tidak tahu atau penasaran terhadap Islam, atau tidak percaya terhadap Tuhan juga menjadi peluang untuk didakwahi.
  • Dalam memperkenalkan Islam terhadap orang non-muslim, perlu menunjukkan akhlak yang baik.

Sesi Tanya Jawab

  1. [Pendapat] Terkadang memberi penjelasan terkait aturan dalam Islam menggunakan pendekatan keimanan atau kultural bisa lebih tepat. Tidak selamanya pendekatan ilmiah sesuai digunakan.
  2. Setelah 11 angkatan EPA (sekitar 5000 orang), ada berapa yang lulus ujian nasional di Jepang?
    Untuk jumlah, tidak diketahui. Secara persentase kelulusan saat ini adalah perawat dari Vietnam (peserta EPA dari Indonesia, Filipina dan Vietnam). Namun, tingginya persentase ini lebih karena jumlah mereka yang paling sedikit, sementara perawat Indonesia yang paling banyak. Ada juga perawat yang telah lulus ujian, namun akhirnya memutuskan pulang.
  3. Apakah ada pengalaman menarik perawat ketika memperkenalkan Islam ke pasien atau teman kerja?
    Jika ada masalah dan perlu memberi penjelasan terkait Islam, perlu menampilkan akhlak yang baik dan tidak ngotot dari awal. Dengan penjelasan yang baik, orang Jepang bisa menjadi sangat peduli dengan pelaksaan ibadah kita.
  4. Apakah ada perawat yang berangkat haji dari Jepang?
    Ada beberapa perawat yang sudah berangkat haji dan umrah dari Jepang. Dalam setahun perawat punya jatah cuti sekitar 2 pekan. Beberapa memanfaatkan jatah ini untuk berangkat haji dan umrah.
  5. Bagaimana komunikasi antarperawat?
    Karena dari Indonesia ada pelatihan Bahasa Jepang, biasanya setiap angkatan punya forumnya. Untuk di Jepang, bisa bergabung di IPMI Jepang yang saat ini ada di 3 tempat; Tokyo, Osaka, dan Tokushima. Di IPMI Jepang, selain bisa meningkatkan ukhuwah antarperawat, juga ada program BBS (Belajar Bareng Senpai) secara online guna meningkatkan angka kelulusan ujian nasional di Jepang, yang bahkan tidak hanya diikuti oleh perawat muslim. Selain itu, ada juga forum perawat dalam suatu daerah di Jepang.
  6. Biasanya ada standar jatah libur bagi pekerja, seperti cuti tahunan, cuti khusus menikah, cuti khusus untuk punya anak, dsb. Bagaimana dengan perawat?
    Perawat bekerja secara shift, sehingga liburnya tidak menentu sebagaimana pekerja perusahaan yang libur di hari Sabtu dan Minggu. Perawat diberi kesempatan untuk memilih jadwal liburnya sebulan sebelumnya, selain ada libur musim dingin dan musim panas. Sementara untuk menikah, hamil dan pengasuhan anak, ada jatah cutinya sendiri.
  7. Bagaimana animo perawat di Indonesia untuk ke Jepang? Dan apakah perawat-perawat Indonesia di Jepang akan merekomendasikan perawat-perawat Indonesia untuk bekerja di Jepang? Menurut salah satu laporan yang menjadi sorotan di Jepang, perawat Filipina lebih memilih untuk bekerja di Kanada sementara perawat Vietnam banyak yang protes terkait program di Jepang.
    Animo perawat di Indonesia untuk bekerja di Jepang masih tinggi. Namun informasi terkait program EPA di Indonesia masih terpusat di kota-kota besar. Saat ini tempat ujian program EPA di Indonesia sudah bertambah, dari hanya di Jakarta menjadi ada di beberapa kota. Guna meningkatkan kemampuan perawat Indonesia, pada aturan baru EPA ditambah syarat kemampuan Bahasa Jepang N5, sehingga banyak perawat yang mulai ambil kelas Bahasa Jepang di Indonesia.

    Di lain pihak, untuk program Ginojishusei, perusahaan Jepang sering meminta rekomendasi dari perawat Indonesia di Jepang dalam perekrutan perawat dari Indonesia. Minat perusahaan dalam merekrut perawat Indonesia pun sangat tinggi. Namun jumlah rekrutmen tetap dibatasi oleh pihak pemerintah karena keterbatasan dalam kemampuan mengelola.

Artikel ini merupakan rangkuman Kajian Islam Kimochi edisi 141, sesi Serial Bahasa Jepang untuk Dakwah, yang disampaikan oleh Chandra S. Putra pada Ahad, 16 Desember 2018 M (9 Rabiul Akhir 1440 H) di Masjid Indonesia Tokyo.

Rekaman Kajian Islam Kimochi #141

> Sesi 1 oleh Chandra S. Putra
> Sesi 2 oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., M.A.


Kontributor: Abdul Aziz