10 Hari Awal Dzulhijjah: Keutamaan & Amalan yang Dianjurkan

Published by forkitajp on

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:
Berbuatlah baik sepanjang masa. Bersiap dan sambutlah hembusan rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT memiliki hembusan rahmat yang akan diraih oleh para hamba yang dikehendakinya. Dan memohonlah kepada Allah SWT agar menutup kekurangan kalian dan menentramkan kalian dari rasa takut.

  • Allah memberikan waktu-waktu khusus, keutamaan waktu dibanding yang lain untuk menyambut rahmat Allah SWT, seperti bulan Ramadhan dan 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah.
  • Setiap hari di sepertiga malam terakhir, dan setiap pekan di hari Jumʼat.
  • Allah SWT memberikan kemudahan, menutup aib dan kekurangan bagi mereka yang mengikuti aturan-Nya.
  • Kita diminta untuk berlomba-lomba memanfaatkan kasih sayang Allah tersebut.

Salah satu momen untuk menyambut rahmat Allah SWT adalah pada 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah. Bagaimana caranya?

  1. Segera bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Allah bersabda dalam QS An-Nur ayat 31 dimana kita diminta untuk menjaga pandangan dan memelihara aurat/kemaluan. Dan QS At-Tahrim ayat 6 dimana kita diminta untuk sungguh-sungguh menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
  2. Berazzam dan berjanji untuk bersungguh-sungguh dengan amalan lebih dari biasanya. Meniti jalan menuju jalan Allah SWT, dan orang yang bersungguh-sungguh akan dimudahkan untuk mendapat rahmat Allah SWT.
  3. Menjauhi dosa dan kemungkaran. Dosa dan kemungkaran akan menghalangi masuknya nur Allah SWT ke dalam hati. Salah satu nur Allah seperti ilmu yang bermanfaat.

Keutamaan 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah

  1. Allah memuliakannya seperti firman Allah dalam QS Al-Fajr ayat 2, Allah bersumpah dengan waktu fajar juga dengan 10 malam pertama Bulan Dzulhijjah.
  2. Hari-hari yang paling agung. Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari sepuluh ini.
  3. Terdapat Hari Arafah. Allah membebaskan hambanya dari api neraka, menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun sesudahnya, dan menyempurnakan agamanya.
  4. Hari Haji Akbar. Amalan haji paling banyak dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah.
  5. Amalan wajib di hari tersebut lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada di hari lain, dan amalan sunnah di dalamnya lebih utama dari amalan sunnah di hari lain, tetapi tidak lebih utama dari amalan wajib di luar hari-hari tersebut.
  6. Keutamaannya meliputi siang dan malam. Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari 10 malam pertama Bulan Dzulhijjah karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr. Sepuluh siang pertama Bulan Dzulhijjah lebih utama karena di dalamnya terdapat Hari Tarwiyah, Arafah, dan hari berqurban.
  7. Hari-hari yang ditentukan dan sarat dengan momen yang bagus untuk berzikir mengagungkan nama Allah.

Amalan utama pada 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah

  1. Haji. Wajib bagi yang mampu. Dan menjadi penghapus dosa antara satu umrah ke umrah yang lainnya.
  2. Memperbanyak zikir secara umum. Setelah sholat, zikri pagi dan petang, saat masuk dan keluar rumah, sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Nilai pahalanya besar terutama di 10 hari pertama Dzulhijjah.
  3. Memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid. Ada 2 macam takbiran di Bulan Dzulhijjah:
    • Takbir mutlak: takbir yang tidak dilakukan langsung sesudah shalat. Disunnahkan takbir mutlak pada 10 hari pertama Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah sebelum Shalat Ashar.
    • Takbir muqayyad: takbir yang dilakukan langsung setelah selesai salam dari shalat wajib, dimulai pada Hari Arafah 9 Dzulhijjah setelah Shalat Fajar sampai tanggal 13 Dzulhijjah setelah Shalat Ashar. Setelah takbiran lalu dilanjutkan zikir setelah shalat, baik shalat berjamaah maupun sendiri.
  4. Puasa 9 hari Dzulhijjah. Diriwayatkan dalam hadist dari Hafsah binti Umar RA, Rasulullah tidak meninggalkan 3 hal: puasa 10 Dzulhijjah (9 hari Dzulhijjah), puasa 3 hari setiap bulan, dan 2 rakaat sebelum subuh.
  5. Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji. Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
  6. Menghatamkan Al-Qur’an. Di waktu normal, untuk tidak masuk kategori menjauhi Al-Qur’an, sebaiknya khatam dalam 40 hari, lebih baik tiap 2 pekan. Tapi tidak dianjurkan kurang dari 3 hari. Al-Qurʼan akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi yang membacanya.
  7. Shalat Ied dan berqurban. Disunnahkan untuk berqurban bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Bagi yang berniat berqurban, tidak memotong rambut dan kuku sejak awal Dzulhijjah.

Penutup

Kita dianjurkan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib untuk menjadi ahibbaullah (orang yang dicintai Allah), selalu memperbaiki amalan baik secara kualitas maupun kuantitas, dan istiqomah menjalankannya (tidak meninggalkan amal shalih yang telah dilakukan).


Sesi Tanya Jawab

  1. Apakah ada tatacara bertobat untuk dosa besar dan dosa kecil?
    Jawab: Dosa besar akan diampuni dengan bertaubat dan beristighfar. Dosa kecil diampuni/dihapus bisa dengan istighfar, dengan meninggalkan dosa besar, dengan melakukan kewajiban dan amalan tertentu. Kita tentunya tidak boleh merasa aman dan bersih dari dosa kecil; untuk itu kita dianjurkan untuk banyak beristighfar, paling tidak 100 kali dalam sehari. Tidak boleh menganggap enteng dosa kecil, karena dosa yang kecil bisa menjadi dosa yang besar jika dilakukan berulang-ulang.
  2. Dosa antara umrah satu dan yang lainnya, apakah dosa yang dimaksud adalah dosa besar atau kecil?
    Jawab: Dosa yang dimaksud adalah dosa kecil.
  3. Sudah berniat berqurban, tetapi tidak sengaja bercukur, apakah ada denda/kafarat?
    Jawab: Tidak ada kafarat, cukup dengan istigfar saja.
  4. Allah membebaskan hambanya dari api neraka, apakah saat ini neraka sudah ada penghuninya?
    Jawab: Neraka sudah diciptakan tapi belum ada penghuninya. Yang ditampakkan kepada Rasullullah saat Isra’ Mi’raj adalah sampel.
  5. Ketika berqurban, mana yang lebih utama, berqurban untuk diri sendiri atau orang tua?
    Jawab: Qurban sunnah muakkadah bagi yang mampu. Kalau anak yang mampu sedangkan orang tuanya tidak mampu maka sebenarnya yang dianjurkan berkurban adalah anaknya.
  6. Mengatasnamakan qurban untuk orang tua yang sudah meninggal, apakah sampai pahalanya?
    Jawab: Berkurban diperintahkan kepada orang yang masih hidup. Berkurban atas nama orang yang sudah meninggal pahalanya sampai menurut jumhur ulama.

Wallaahu A’lam.

Artikel ini merupakan notulensi Kajian Islam Kimochi edisi 162 (Spesial Dzulhijjah 1442H), yang disampaikan oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., MA. pada Ahad, 11 Juli 2021 secara daring.


Kontributor: Azis; Editor: Ustadz Jailani Abdul Salam


Rekaman Kajian Islam Kimochi #162