Menyemai Iman, Merajut Ukhuwah

Published by forkitajp on

Terkadang ada masa untuk bersama,
Menabur cinta dan iman dalam asa yang sama,
Terkadang ada masa untuk bersama,
Menabur benih keimanan di sanubari sesama anak adam yang mencintai Rabb-nya
Agar kelak ketika ia tumbuh,
Tersemai dalam akar yang kuat,
Bersama menjulang ke langit, berbuah yang manis lezat dan nikmat,
Dalam balutan Ukhuwah Islamiyah.

Dalam masa 3 hari merecharge kembali iman di bawah dauroh bernama Pelita Tsukuba. Pelita Tsukuba dilaksanakan sejak tanggal 30 Desember 2016 – 1 Januari 2017. Ustadz Imron Rosyadi pun kemudian didaulat untuk memberikan materi dalam Pelita Tsukuba ini. Pelita yang merupakan singkatan dari Pesantren Lintas Tahun, diharapkan menjadi sarana tarbiyah bagi setiap pribadi, untuk kembali mensibghahkan dirinya dalam sumur keimanan yang dihiasi dengan rahmat dan rahim dari Allahu Rabbus Sama Wa Tiwal Ardhi.

Bagi penulis pribadi, yang saat ini sedang menjadi seorang thalabul ‘ilmi, kehadiran Pelita Tsukuba adalah sebuah oase di tengah lahan tandus, untuk kembali mengisi setiap bekal perjalanan. Ibarat berjalan di negeri yang diliputi oleh gurun sahara, kehadiran Pelita Tsukuba, layaknya kafilah yang datang membawa segarnya air mata air, untuk kemudian melepas dahaga di tengah teriknya panas gurun.

Tidak dapat dipungkiri, kehidupan saat ini menyadarkan diri penulis, bahwa sepenuhnya diri yang dhaif dan khilaf inilah yang membutuhkan pada hadirnya Din ini. Diri yang penuh kehinaan dan selalu bergelimang dengan dosa inilah yang membutuhkan Din ini. Penulis menyadari, ada atau tidaknya penulis, tidak akan memberikan pengaruh apapun pada Din ini, karena sejatinya Din ini adalah Din sempurna yang hakikatnya Allah adalah yang telah menyempurnakan Din ini, sedangkan Allah adalah Yang Maha Sempurna.

Namun ada hal lain yaitu mengenai ukhuwah yang begitu lama dirindukan, ia bagai api yang menyala tatkala hati-hati yang merindukan Rabb-nya berkumpul dan menundukkan segala kesombongan yang dimiliki oleh setiap anak adam. Ia bagaikan buah segar yang dihaturkan dari ladang yang dirawat dengan baik dan diberikan pupuk-pupuk terbaik. Ia adalah hikmah yang bertabur dalam setiap tawa, canda, dan senyum yang diberikan. Bukankah Rasulullah melalui sahabatnya ‘Umar ibn Al-Khattab mengatakan, ”Jangan engkau merasa bahwa engkau telah mengenal saudaramu dengan baik, jika engkau belum pernah melakukan safar bersama saudaramu tersebut, atau sebelum engkau pernah bermalam bersama saudaramu”.

Jika 3 hari itu telah berlalu, maka sesungguhnya kini tersisa tali ukhuwah yang kau ulurkan dari tempat tinggalmu kini, yang diikat dalam tiang-tiang ukhuwah yang sudah dilukiskan dalam Pelita Tsukuba. Ia tidak akan pernah terlepas, karena ia adalah pengingat kala di Jannah kau tak lagi menemui diri-diri yang sama-sama pernah menatapkan hati ke hati, untuk bersama mencintai Allah dan merindukan Rasul-Nya.

Teruntuk saudaraku, terima kasih atas setiap hikmah yang kau bagi selama 3 hari membersamai Pelita Tsukuba. Semoga Tazkiyatun Nafs yang kita dalami, menjadi jalan dalam memancarkan cahaya Ilahi dalam keindahan kita berperilaku baik terhadap saudara-saudara kita dalam iman dan Islam, ataupun terhadap mereka yang belum memiliki kesamaan dalam melihat keagungan Ilahi Rabbi, Allah SWT. Ikhwan dan Akhwati Fillah, karena sejatinya, tidak akan pernah ada cerita kala Allah tidak pernah menakdirkan terjadinya kegiatan ini.

Karena sejatinya ada suatu masa,
Ketika hati tak lagi bercahaya,
Bisa jadi bukan Cahaya Ilahi yang tak ingin datang menghampiri,
Namun, pintu hati-hati kitalah yang menutup masuknya cahaya itu.
Dan ukhuwah akan menjadi pengetuk,
Agar bersama Cahaya Ilahi masuk dalam sanubari

Seorang cendekiawan Muslim, Sayyid Qutb dalam buku Al-Ustadz Salim A. Fillah, pernah menuliskan sebuah makna mendalam mengenai ukhuwah. Sayyid Qutb menuliskan,
Persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berikatan
dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
saling bersaudara, saling merendah lagi memahami,
saling mencintai, dan saling berlembut hati.

Selamat kembali pulang saudara-saudariku menuju tempat di mana engkau berjuang meraih ridha Illahi di sana, dan marilah melangkahkan kaki di bumi Allah, dengan jiwa yang baru, sembari memperbanyak istighfar dalam diri, karena khilaf adalah ciri anak adam, dan karena dhaif adalah keniscayaan baginya.


Kontributor: Abrory Agus Cahya Pramana