Kisah Dua Kematian

Published by forkitajp on

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ عِندَ هُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْ ثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَم َا تَدْرِي نَفْسٌ مّ َاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَف ْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِير

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Al Quran Surat Luqman: 34)

Pada hari Senin tanggal 10 September 2012 saya mampir ke Masjid Otsuka untuk salat. Setibanya di masjid, saya bertemu dengan kawan saya Brother Haroon (Nama lengkapnya Haroon Qureshi. Beliau orang Pakistan yang menjadi pengurus Masjid Otsuka. Teman-teman Muslim laki-laki di sini biasa saling memanggil dengan sebutan “Brother”).

Brother, kamu tahu Brother Omer wafat?” Saya agak kebingungan ditanya begitu, sebab saya merasa tidak mengenal Brother Omer. Brother Haroon pun menjelaskan bahwa Brother Omer itu kawan kami yang berasal dari Senegal yang biasa membantu menerjemahkan ceramah di masjid dari Bahasa Inggris ke Bahasa Jepang. Mendengar itu, terbukalah ingatan saya. Saya ingat pernah bertemu Brother Omer di Masjid Okachimachi, Tokyo. Saya juga melihat beliau saat menerjemahkan ceramah Bahasa Inggris ke Bahasa Jepang dengan sangat fasih.

Yang sangat mengejutkan saya setelah itu adalah penuturan Brother Haroon tentang bagaimana Brother Omer wafat.

Brother Omer wafat pada hari Ahad malam, sehari sebelumnya. Pada hari Ahad memang kadang imam Masjid Otsuka bepergian sehingga saat waktu salat tiba, jamaah masjid menunjuk salah satu orang yang hadir untuk menjadi imam. Malam itu saat waktu salat Isya tiba, imam masjid sedang tidak hadir. Orang-orang pun menunjuk Brother Omer sebagai imam.

Di salah satu rakaat Brother Omer membaca surat Al Mulk dari awal hingga akhir. Kemudian beliau ruku’. Saat bangkit dari ruku’ tiba-tiba beliau terjatuh. Beliau wafat di tempat saat itu juga, dalam usia 38 tahun.

Saya ikut mensalatkan jenazah beliau Selasa malam (pengumuman salat jenazah ada di sini). Masya Allah luar biasa banyaknya orang yang ikut. Masjid penuh sesak. Ruangan sekolah TK anak di samping masjid juga penuh. Hampir saja saya tidak mendapat tempat untuk salat janazah. Selama di Jepang saya belum pernah melihat ada jenazah yang disalatkan orang sebanyak itu.

Esok harinya saya pun ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman muslim di Yamanashi (letaknya sekitar 120 km dari Otsuka). Banyak sekali orang yang ikut, padahal hari itu hari kerja.

Dalam perjalanan itu saya berada di satu mobil dengan Brother Haroon dan Brother Salman, seorang muslim Jepang. Di perjalanan itu tidak henti-hentinya mereka berdua membicarakan kebaikan Brother Omer. Menurut Brother Haroon, Brother Omer rajin sekali salat jamaah di Masjid, dan sudah sejak lama gemar membaca dan menghafalkan surat Al Mulk. Brother Omer juga sangat giat menyampaikan Islam kepada orang Jepang dan rajin membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan. Selain itu, Brother Haroon bercerita bahwa Brother Omer di akhir hidupnya sempat mengalami kesulitan ekonomi hingga menanggung utang. Tapi beliau bertekad untuk melunasi utang-utang itu secepatnya. Brother Haroon mendengar dari istri Brother Omer bahwa Brother Omer sudah menulis dalam catatannya bahwa utang-utangnya akan dibayar lunas tanggal 11 September. Ternyata beliau wafat tanggal 10 September. Dengan izin Allah, ada bantuan mengalir sehingga pihak keluarga dapat melunasi utang itu tepat pada tanggal 11 September, sesuai dengan cita-cita beliau.

Kami pun tiba di pemakaman setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam. Setelah proses penguburan jenazah tuntas, dan kami yang hadir masih berkumpul di pusara Brother Omer, Brother Haroon angkat bicara. Beliau mengatakan akan menceritakan sebuah kisah untuk pelajaran bersama.

Beliau bercerita, ketika Masjid Otsuka baru berdiri (sebelum tahun 2000), suatu hari ada seorang laki-laki mendatangi Brother Haroon (Brother Haroon sengaja tidak menjelaskan identitas lelaki itu). Lelaki itu minta bantuan kepada Brother Haroon untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, yaitu overstay. Artinya, lelaki ini masa izin tinggalnya di Jepang sudah habis, tapi nekat terus bekerja di Jepang, jadi statusnya ilegal. Biasanya kalau tertangkap razia pemerintah Jepang, orang-orang bersatus ilegal ini akan dideportasi. Saya lupa, lelaki ini minta bantuan Brother Haroon untuk apa, tapi yang jelas, Brother Haroon bersedia untuk membantunya. Brother Haroon memintanya datang lagi beberapa hari kemudian, dan lelaki itu menyanggupi. Ternyata, di hari yang sudah disepakati berdua itu, lelaki itu tidak datang. Esok harinya pun tidak datang. Hingga berhari-hari Brother Haroon menanti, lelaki itu tidak juga datang.

Hingga akhirnya Brother Haroon mendapat informasi bahwa ada sosok mayat orang asing tak dikenal. Pihak berwajib sudah sejak beberapa hari mengawetkan mayat itu. Kalau sampai tidak ada seorangpun yang bersedia mengurusnya, mayat itu akan dikremasi.

Brother Haroon pun segera mengecek. Ternyata dugaan beliau benar. Itu adalah mayat lelaki yang overstay itu. Beliau pun mengambil lalu mengurus jenazah itu bersama rekan pengurus masjid Otsuka. Yang membuat Brother Haroon heran, saat dimandikan, jenazah itu sudah berbau sangat busuk padahal baru beberapa hari diawetkan. Biasanya, kalau jenazah sudah diawetkan, tidak akan berbau busuk dalam waktu lama.

Yang lebih mengherankan, saat dimasukkan ke liang lahat, jenazah itu tidak bisa dihadapkan ke kiblat! Brother Haroon sudah berusaha sekuat tenaga menghadapkannya ke kiblat, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya, karena tidak ada jalan lain, Brother Haroon dan rekan-rekan pun menguburkan jenazah itu dalam keadaan jenazah tidak menghadap kiblat.

Brother Haroon penasaran, bagaimana ceritanya kok bisa begini. Beliau pun menghubungi pihak kepolisian yang menemukan jenazah ini dan bertanya bagaimana kronologi kematiannya. Semula pihak kepolisian enggan, tapi kemudian bersedia menjelaskannya. Ternyata, lelaki itu ditemukan tewas akibat benturan saat terjatuh dari suatu tempat. Dan ternyata, ketika tewas, dia dalam keadaan mabuk minuman keras.

إنا لله وإنا إليه را جعون

Sampai di sini kisah Brother Haroon.

Beberapa pelajaran:
1. Brother Omer suka ke masjid dan suka membaca dan menghafal Al Mulk. Allah memberi beliau karunia kematian di masjid saat baru selesai membaca Al Mulk.

2. Brother Omer punya masalah (utang), tapi beliau terus berusaha menyelesaikannya sembari mendekat kepada Allah, hingga Allah pun menyelesaikan masalahnya dengan baik. Lelaki yang menemui Brother Haroon itu juga punya masalah (overstay), tetapi dia mencari pelarian kepada maksiat. Masalahnya tidak selesai, justru dia mendapat masalah baru yang jauh lebih besar.

3. Kematian itu sungguh sebuah misteri bagi manusia. Sungguh sulit diduga kapan, di mana, dan dalam keadaan apa dia akan datang. Andai kata tahu ajalnya akan menjemput, lelaki itu tidak akan nekat mabuk-mabukan. Demikian pula, andaikan ajal itu dapat diduga, pastilah semua orang mempersiapkan kondisi terbaik tepat ketika ajalnya tiba, seperti kondisi saat Brother Omer wafat.

Kisah dua kematian ini semestinya menjadi pengingat bagi kita untuk terus bersiap. Semoga Allah memberi kita karunia husnul khatimah.


Kontributor: Abdur Rohman (alumnus Ibaraki University dan Tokyo University of Agriculture and Technology)