Rasulullah SAW dalam Membina Keluarga

Published by forkitajp on

Menikah dengan Khadijah

  • Mengenal Khadijah dan silsilah keluarganya sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW.
    • Khadijah binti Khuwalid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai.
    • Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim bin Abdu Manaf bin Qushai.
    • Khadijah pernah menikah dua kali dengan:
      1. Abdul Halah bin Zurarah yang wafat dan meninggalkan dua orang anak: Hindun dan Halah.
      2. Athiq bin Aid yang meninggal, anaknya bernama Hindun.
  • Nabi Muhammad SAW memberikan mahar sebesar 20 ekor unta (ar-Rahiqul Makhtum).
  • Ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW usia Khadijah 40 tahun (ada yang mengatakan 28 tahun).

Mengenal Keluarga Nabi Muhammad SAW

  • Qasim dan Abdullah (meninggal pada usia dini).
  • Zainab, menikah dengan Abul Ash bin Rabi lalu melahirkan Ummamah dan Ali. Umamah sempat dinikahi Ali bin Abi Thalib setelah Fathimah wafat.
  • Ruqayyah, menikah dengan Utsman dan tidak ada keturunan.
  • Ummul Kultsum, menikah dengan Utsman, melahirkan Abdullah yang wafat pada usia 4 tahun.
  • Fathimah, menikah dengan Ali yang melahirkan Hasan, Husain, Zainab, Muhsin dan Ummu Kultsum.
  • Ibrahim, putra Nabi Muhammad SAW dari Maryah al-Qibthiyah.

Memetik Teladan dari Khadijah

  • Khadijah tetap cantik di usianya yang 40 tahun. Hikmahnya yaitu wanita harus memelihara kesehatan dirinya.
  • Bukan hanya memberikan kekuatan mental tapi juga finansial.
  • Wanita boleh beraktivitas. Syaratnya tidak mengabaikan tugasnya sebagai istri dan ibu.
  • Meskipun secara ekonomi Khadijah lebih dulu mapan, tapi ia tetap setia mendampingi Nabi Muhammad SAW.
  • Selain dukungan moril, ia juga memberikan kekuatan mental dan spiritual kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau mendapatkan wahyu. “Maa yukhziikallah. Innaka latashilur Rahim (Allah tidak akan menyusahkanmu. Engkau sering menyambung silaturahim…)”.
  • Pertama kali memenuhi panggilan dakwah.
  • Cinta sejati antara dua (suami istri).
  • Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi Khadijah hingga membuat Aisyah cemburu.
  • Teladan dalam mendidik/pendidikan anak.

Istri-istri Nabi Muhammad SAW

  1. Khadijah binti Khuwailid, Nabi SAW berusia 25 tahun.
  2. Saudah binti Zam`ah, beberapa setelah Khadijah wafat.
  3. Aisyah binti Abu Bakar, dua tahun sebelum hijrah.
  4. Hafshah binti Umar, dinikahi setelah Perang Badar.
  5. Zainab binti Khuzaimah, setelah Perang Uhud dan wafat.
  6. Ummu Salamah, setelah Perang Uhud.
  7. Zainab binti Jahsy, setelah Perang Ahzab tahun 5 Hijriah.
  8. Juwairiyah binti Harits, setelah Perang Bani Mushthaliq.
  9. Ummu Habibah, dinikahin pada tahun 7 di Habasyah.
  10. Shafiyah binti Huyay, setelah perang Khaibar.
  11. Maimunah binti Harits, setelah Umrah Qadha`.
  12. Maryah al-Qibthiyah, setelah perang Khaibar.
  13. Raihanah binti Zaid, setelah Perang Bani Quraizhah wafat setelah Haji wada`.

Hikmah Pernikahan Nabi Muhammad SAW

  • Untuk menjalin kekeluargaan
    • Aisyah putri Abu Bakar.
    • Hafshah puti Umar.
    • Ummu Kultsum dan Ruqayyah menikah dengan Utsman.
    • Fathimah menikah dengan Ali.
  • Meredam permusuhan
    • Nabi Muhammad SAW menikah Ummu Salamah untuk meredam permusuhan kabilah Makhzum (Khalid bin Walid).
    • Nabi Muhammad SAW menikahi Ummu Habibah untuk meredam permusuhan Abu Sufyan.
    • Nabi Muhammad SAW menikahi Juwairiyah untuk meredam permusuhan Bani Mushtaliq.
    • Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyah untuk meredam perlawanan Bani Nadhir.
  • Untuk memberikan pendidikan
    • Dengan menikahi banyak wanita Nabi Muhammad SAW bisa memberikan ilmunya tanpa sekat kepada banyak orang.
  • Untuk menghapus tradisi jahiliyah
    • Yang melarang seseorang menikahi mantan istri anak angkatnya. Beliau menikahi Zainab binti Jahsy, mantan istri Zaid bin Haritsah (QS Al-Ahzab: 37).

Akhlak Rasulullah Terhadap keluarga

  • Terbaik terhadap keluarga
    • Rasulullah bersabda,

      خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

      Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluarga.” (HR. At-Tirmidzi No. 3895)

  • Memberi nafkah
    • دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

      Satu dinar yang Engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang Engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang Engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang Engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi).”(HR. Muslim)

  • Sabar menghadapi istri
    • لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

      Janganlah kamu seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim No. 1469)

  • Tidak menyakiti Istri
    • أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

      Muawiyah Al-Qusyairi bertanya pada Rasulullah SAW mengenai kewajiban suami pada istri. Rasulullah bersabda, “Engkau memberinya makan sebagaimana Engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana Engkau berpakaian -atau Engkau usahakan-, dan Engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan Engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasihat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud No. 2142)

  • Melaksanakan pekerjaan sendiri
    • Aisyah pernah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah di rumah. Aisyah menjawab, “Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah.” (HR. Ahmad 23756)
  • Menjaga romantisme
    • كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ

      Nabi biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” (HR. Bukhari No. 1927 dan Muslim No. 1106)

  • Menyayangi anak-anak
    • مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

      Anas bin Malik berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam.” (HR. Muslim No. 2316)

  • Mencium anak-anak
    • قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

      Abu Hurairah berkata, “Nabi mencium Al-Hasan bin `Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqra` berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah melihat kepada Al-Aqra` lalu beliau berkata, ‘Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati.’” (HR. Al-Bukhari No. 5997 dan Muslim No. 2318)

  • Sangat peduli anak kecil
    • إِنِّى لأَدْخُلُ الصَّلاَةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

      Sesungguhnya aku sedang shalat dan ingin memperpanjang shalat. Lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil. Maka aku pun meringankannya (memendekkannya), karena ibunya akan kesusahan, gelisah karena tangisannya.” (HR. Bukhari No. 709 dan Muslim No. 3430)

Akhlak kepada anak

  • Memberikan nama yang baik
  • Bersikap adil
  • Menanamkan kepedulian terhadap ilmu
  • Membiasakan ibadah sejak dini
  • Mendoakan anak-anak
  • Bersikap lembut dan tidak kasar

Sesi Tanya Jawab

  1. Tanya : Bagaimana Rasulullah SAW menafkahi secara lahiriah istri-istri beliau sedang beliau sendiri sibuk berdakwah dan memimpin umat?

    Jawaban :

    1. Beliau SAW punya jadwal untuk membagi kewajiban untuk istri-istrinya (hadits sewaktu Rasulullah SAW sakit, beliau bertanya hari itu seharusnya berada di rumah siapa (istri)). Pentingnya manajemen waktu untuk keluarga, menerapkan prinsip bahwa keluarga adalah prioritas sehingga harus meluangkan waktu untuk keluarga.
    2. Berusaha menyelaraskan misi dakwah dengan aktivitas kebersamaan keluarga (Rasulullah SAW mengajak istrinya saat pergi berdakwah).
  2. Tanya :

    1. Dari slide Ustadz, apakah Khadijah RA memiliki 2 anak yang sama-sama bernama Hindun dari dua suami yg berbeda?
    2. Bagaimana Rasulullah SAW bersikap adil kepada anak-anak? Apakah Rasulullah SAW menerapkan sistem reward and punishment?

    Jawaban :

    1. Betul, tiga anak Khadijah dari suaminya (sebelum menikah dengan Rasulullah SAW), Hindun laki-laki, Hindun perempuan, dan Halah perempuan.
    2. Betul, contoh tarbiyatul aulad adalah metode hadiah dan hukuman. Contohnya untuk ibadah, berhasil puasa 30 hari diberi hadiah, atau telat shalat subuh diberi hukuman. Namun, ini harus untuk hal yang mendidik (hadits tentang kewajiban anak shalat saat sudah tujuh tahun; kalau tidak, boleh dipukul).
  3. Tanya :

    1. Tidak sedikit orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada guru/ustadz. Bagaimana seharusnya tanggung jawab orang tua kepada pendidikan, khususnya agama pada anaknya?
    2. Di tanah air, sempat viral kisah layangan putus dimana suami berpoligami (menjalankan sunah Rasulullah SAW), namun keluarga istri pertamanya jadi hancur. Perlukah negara mengatur terkait poligami ini?

    Jawaban :

    1. Pendidikan anak tanggung jawab orang tua. Guru dan ustadz hanya membantu saja. Pemantauan lebih detail tetap kewajiban orang tua, jadi kalau gagal tetap salah orang tua. Untuk anak di pesantren, orang tua bisa buat grup WA dengan guru, tanya perkembangan anak. Pendidikan anak harus jadi investasi terbesar, jangan sampe keliru. Mendidik anak sekecil mungkin, bahkan sejak masih dalam kandungan.
    2. Fenomena layang-layang putus: pahami bahwa poligami itu ada syariatnya. Hukum menikah lagi ada macam-macam hukumnya, bisa wajib (bisa menafkahi, istri tidak bisa memberikan keturunan dan ada resiko terjebak perbuatan zina), sunnah (bisa menafkahi dan istri tidak bisa memberikan keturunan), haram (tidak bisa menafkahi). Kalau diatur pemerintah, harus dengan cara yang tepat. Tidak hanya halal-haram tapi sesuai kondisi, bisa diaplikasikan hanya pada kondisi tertentu.
  4. Tanya : Sebaiknya memasukan anak di pesantren pada jenjang pendidikan apa?

    Jawaban : Anak di pesantren tidak wajib. Target untuk pendidikan harus jelas, jika tidak bisa dikabulkan sendiri, baru minta bantuan yang lain (contoh, target anak hafalan juz dibantu ustadz di pesantren). Namun tetap diawasi. Saran, pesantren setelah SD/MI (karena SD/MS masih terlalu kecil).

  5. Tanya : Tentang berbohong kepada anak supaya mau melakukan sesuatu.

    Jawaban : Berbohong itu tidak boleh. Ada sedikit pengecualian (misal untuk mendamaikan pertikaian). Sebaiknya jangan berbohong ke anak, tapi jika itu bagian untuk pendidikan dengan niat dan tujuannya baik, boleh saja dan tetap tepati janji selama itu tidak memberatkan. Contoh: tidak membelikan baju baru jika puasa tidak full.

  6. Tanya : Bagaimana pandangan Islam mengenai perceraian?

    Jawaban : Bangsa Arab dikenal suka mentalak istrinya. Dalam Islam, itu dibenci Allah (ada aturan maksimal 2 kali menalak istri). Di Islam boleh, tapi hanya sebagai pintu darurat, hanya dilakukan kalau pernikahan tersebut hanya akan membawa mudharat. Ada ketentuannya di Islam dan itu sangat detail. Perceraian sangat menjadi perhatian di Islam.

  7. Tanya :

    1. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang keturunan Rasulullah SAW atau tidak?
    2. Apakah secara syariat keturunan Rasulullah SAW mempunyai hak-hak khusus dalam agama Islam?

    Jawaban :

    1. Dilihat dari nasabnya, harus sampai ke salah satu anak dari Ali bin Abi Thalib.
    2. Berhak untuk dicintai karena keturunan Rasulullah SAW dengan sewajarnya.
  8. Tanya :

    1. Tentang putra-putra Rasulullah SAW yang Allah SWT panggil lebih dulu, apakah ada hubungannya nasab Nabi SAW dari jalur laki-laki sehingga putusnya jalur nasab kenabian (Rasulullah SAW menjadi rasul terakhir)?
    2. Pernah mendengar kajian bahwa salah satu bukti cemburunya Allah SWT pada Rasulullah SAW adalah diwafatkannya orang-orang yang dicintai beliau SAW (banyak putra-putri Rasulullah SAW lebih dulu dipanggil dari beliau SAW). Apakah cinta pada anak-anak ini bisa mengurangi cinta kita pada Allah SWT? Bagaimana memaknai ini, ya Ustadz?

    Jawaban :

    1. Tidak ada hubungan meninggalnya putra Rasulullah SAW dengan putusnya kenabian. Kenabian tidak ada hubungannya dengan keturunan. Rasulullah SAW sudah ditakdirkan sebagai nabi terakhir.
    2. Betul, ini harus diwaspadai. Harta dan anak itu perhiasan dunia, jangan melalaikan kecintaan kepada Allah karena keduanya. Wafatnya anak Rasulullah SAW adalah salah satu ujian Rasulullah SAW dari Allah SWT.
  9. Tanya : Dua sahabat Rasulullah SAW menjadi mertua dan menantu Rasulullah SAW, hikmah dan akhlak apa yang bisa diambil?

    Jawaban : Tujuan dari pernikahan itu untuk mempererat persahabatan, kekerabatan antara keluarga kedua calon mempelai.

  10. Tanya : Berbohong untuk mendamaikan pertikaian, seperti apa contohnya?

    Jawaban : Tidak menceritakan yang sebenarnya itu belum tentu berbohong. Kalau tidak menyampaikan (aib) demi kebaikan itu dibolehkan. Contoh, masa kelam seorang perempuan yang hendak dilamar, selama itu tidak membawa mudharat.

    Ghibah (menceritakan aib) untuk mencari solusi itu boleh, tapi hanya kepada orang tertentu (Hindun menceraikan suaminya yang pelit ke Rasulullah SAW.


Artikel ini merupakan notulensi Pelita Tsukuba 1443 sesi kedua oleh Panitia Pelita Tsukuba 1443 (Nailil Husna), dengan topik “Rasulullah SAW dalam Membina Keluarga” dan narasumber Ustadz Hepi Andi Bastoni, Lc., M.A.