Fikih Jihad (1)

Published by forkitajp on

Fikih jihad menjadi bahasan pertama Bab Muamalat pada Buku Minhajul Muslim. Dalam salah satu Hadits Arba’in Imam An-Nawawi, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu puncak Islam adalah jihad. Umat Islam perlu memahami dan memposisikan jihad dengan benar, tidak menafikan maupun berlebih-lebihan dengannya.

Hukum Jihad

Jihad pada kondisi khusus memiliki hukum fardhu kifayah, atas dasar Quran Surah At-Taubah ayat 122 berikut.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dalam sirah Rasulullah SAW, ada dua macam kondisi yang membuat jihad menjadi fardhu ‘ain; (1) ketika pemimpin negara Islam sudah mewajibkan dan (2) ketika musuh memasuki wilayah Islam untuk menjajah atau menguasai (jihad untuk pertahanan).

Macam-macam Jihad

  1. Jihad terhadap orang-orang kafir yang memerangi orang Islam. Jihad seperti ini bisa dilakukan dengan kekuatan/kekuasaan, lisan, dan hati (niat). Rasulullah SAW bersabda, “Perangilah orang-orang musyrik (jika kondisi telah memenuhi syarat) dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.
  2. Jihad terhadap orang-orang suka berbuat maksiat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan kekuatan/kekuasaannya, jika tidak bisa maka dengan ucapan/tulisannya, atau jika tidak bisa maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
  3. Jihad terhadap setan. Setan merupakan musuh bagi umat islam, karena setan sudah memproklamirkan akan mencegah manusia dari ketaatan kepada Allah SWT. Cara berjihad terhadap setan ada dua; (1) meluruskan syubhat-syubhat yang disebarkan setan dan (2) meninggalkan godaan syahwat.
    Syubhat merupakan penyakit pertama yang menyebabkan seseorang tersesat, dan ini merupakan akibat dari tidak adanya ilmu. Penyakit syubhat lebih berbahaya daripada penyakit syahwat, karena orang yang terjebak dengan syubhat sering merasa bahwa ia berada pada jalan yang paling benar meskipun ia berada di jalan yang sesat.
    Syahwat secara umum berarti keinginan; syahwat diberikan pada manusia untuk membedakan antara orang-orang yang mempergunakan syahwat sesuai dengan ketentuan Allah dan yang tidak. Secara khusus, syahwat berarti keinginan yang tidak baik. Allah memberi peringatan agar manusia tidak tertipu oleh yang suka menipu (setan).
  4. Jihad terhadap hawa nafsu. Cara berjihad terhadap hawa nafsu adalah dengan belajar, mengamalkan, dan mengajarkan agama. Dalam belajar agama, ada hal-hal yang wajib diketahui dan ada hal-hal yang tidak wajib diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Sebagai contoh, belajar terkait waris, yang secara umum hukumnya adalah fardhu kifayah. Namun bagi yang sudah menggeluti bidang tersebut, maka hukumnya fardhu ‘ain baginya. Dalam sebuah hadits (dhaif) disebutkan bahwa jihad terhadap hawa nafsu merupakan jihad yang terbesar.

Hikmah Jihad

Tujuan utama syariat jihad adalah agar hanya Allah SWT yang disembah. Untuk menyembah Allah SWT, harus ada kondisi dimana orang bebas mengajak orang lain untuk menyembah Allah tanpa adanya halangan. Allah berfirman dalam Quran Surah Al-Anfal ayat 39:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Fitnah di sini berarti kesesatan (menyembah kepada selain Allah SWT), dan kondisi dimana umat Islam menjadi objek siksaan kaum kafir akibat tidak memiliki kekuatan.

Keutamaan Jihad

Jihad memiliki keutamaan yang besar. Allah membeli diri dan harta orang-orang beriman dengan surga, sebagaimana yang tertera dalam Quran Surah At-Taubah berikut:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah: 111)

Jihad hendaklah dilakukan dengan rapi dan tidak serampangan. Allah berfirman dalam Quran Surah Ash-Shaf:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash-Shaf: 4)

Perang Uhud memberi pelajaran bagaimana pentingnya mengatur barisan serta ketaatan terhadap komando.

Dalam ayat yang lain pada Surah Ash-Shaf, Allah menyebut berbagai balasan bagi orang-orang beriman yang mau melakukan jual-beli dengan Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ [١٠] تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [١١] يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [١٢]

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS Ash-Shaf: 10-12)

Di akhirat nanti, manusia hanya terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada golongan pertengahan; orang yang menang yang masuk surga dan orang yang kalah/merugi yang masuk neraka. Orang-orang yang timbangan kebaikan dan keburukannya sama, dimasukkan ke dalam golongan orang yang menang, sebagaimana yang Allah sampaikan pada Surah Ali Imran ayat 185, “Barang siapa yang diselamatkan dari adzab neraka lalu dimasukkan ke dalam surga, maka ia telah menang.

Orang-orang yang syahid itu tidak mati, tetap hidup dan selalu menerima rezeki dari Allah SWT, sebagaimana tertera pada Quran Surah Ali Imran:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ [١٦٩] فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [١٧٠]

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Ali Imran: 169-170)

Keutamaan Jihad dalam Hadits

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapa manusia yang paling utama (baik)?” Beliau SAW menjawab orang beriman yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah SWT dan orang mukmin yang beribadah di suatu lembah (beribadah secara sembunyi-sembunyi) serta berusaha untuk tetap beribadah walau dalam keadaan sulit.

Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa dan orang yang berdiri (melaksanakan qiyamullail), dan Allah SWT cuma memberi dua pilihan; jika ia meninggal dalam medan jihad maka akan masuk surga, dan jika ia kembali maka akan mendapat kebaikan besar (pahala dan ghanimah).

Rasulullah SAW juga pernah ditanya agar menunjukkan amalan yang menyerupai jihad. Beliau menjawab bahwa tidak ada dan memberi gambaran, “Apakah bisa jika di saat orang yang berjihad itu keluar dan dalam waktu bersamaan kamu masuk masjid lalu kamu shalat sampai ia kembali? Atau kamu berpuasa hingga orang yang berjihad itu pulang? Siapa yang bisa seperti itu?

Dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang berjihad lalu ia terluka, maka wangi darahnya di akhirat nanti seperti misk (kesturi).

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Abu Daud, An-Nasa’i, dan Imam Ahmad disebutkan bahwa barang siapa yang meninggal, ia tidak pernah ikut berperang dan tidak punya niat untuk berjihad/berperang, maka ia meninggal dalam kondisi membawa kemunafikan. Karena itu, orang beriman hendaklah bersiap atau berniat untuk ikut berperang di jalan Allah SWT dalam hidupnya.

Ar-Ribath

Ar-ribath adalah penjagaan pasukan Islam dengan persenjataan dan perlengkapan lengkap pada perbatasan dan pos-pos yang telah ditentukan, yang dikhawatirkan sebagai tempat masuknya musuh ke dalam sebuah negara Islam di masa damai (tidak ada perang).

Hukum ribath adalah wajib kifayah. Di dalam Quran Surah Ali Imran disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200)

Keutamaan Ribath dalam Hadits

  • Ribath sehari di jalan Allah SWT pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya.
  • Setiap orang yang meninggal maka tertutup amalannya kecuali murabith (orang yang melaksanakan ribath), pahalanya terus bertambah dan mendapatkan ketenangan hati ketika menghadapi Munkar dan Nakir
  • Menjaga perbatasan semalam saja di jalan Allah SWT lebih baik dari 1000 malam yang terus dilaksanakan qiyamullail selama itu dan puasa di siangnya.
  • Orang yang tidak tidur untuk berjaga-jaga di jalan Allah SWT, maka Allah SWT akan menjaga mata tersebut dari siksa neraka.
  • Rasulullah SAW menyampaikan ke salah seorang yang baru melaksanakan ribath di sebuah malam dan ia tidak meninggalkan posnya kecuali untuk shalat (wajib) dan buang hajat, bahwa dengan amalannya meronda tadi malam maka ia wajib masuk surga. dan jika seandainya seseorang itu boleh meninggalkan kewajiban di dunia, maka ia tidak perlu beramal lagi.

Persiapan Jihad (I’dad)

Kaum muslimin perlu melakukan persiapan jihad dengan mempersiapkan kekuatan-kekuatan yang diperlukan. Allah berfirman pada Quran Surah Al-Anfal:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal: 60)

Rasulullah SAW menafsirkan kekuatan sebagai keahlian melempar/melontar (disebutkan sebanyak 3 kali) dan keahlian dalam mengendarai (kuda).

Keahlian dalam melempar mulai dari tombak, panah, meriam, pistol, hingga rudal. Allah SWT akan memasukkan ke surga dari satu saham (anak panah) tiga orang; orang yang membuat anak panah tersebut, orang yang melontarkan/melesatkan anak panah tersebut, dan orang yang mengumpulkan anak panah tersebut.

Keahlian dalam melontar lebih bagus daripada keahlian dalam menunggang kuda.

Juga disebutkan bahwa tidak ada permainan kecuali dalam 3 perkara; (1) bagaimana seseorang melatih kudanya, (2) bercengkerama dengan keluarganya (istrinya), dan (3) berlatih memanah.


Sesi Tanya Jawab

  1. Terkait persiapan, di zaman sekarang mungkin tidak lagi menggunakan panah dan tombak, melainkan pistol dan senapan. Untuk bisa latihan menggunakan peralatan ini, apakah perlu adanya wajib militer?
    Di beberapa negara, ada aturan wajib militer. Menurut Islam, hal ini merupakan hal yang baik, karena dapat melatih rakyat sehingga bisa menjadi pasukan cadangan jika terjadi perang dan dirasa pasukan militer dirasa tidak mencukupi. Bahkan disebutkan oleh para ulama bahwa wanita pun wajib untuk ikut mempertahankan kedaulatan sebuah negara (Islam).
  2. Di zaman sekarang, apakah menjaga ilmu pengetahuan yang penting bisa dianggap ribath?
    Yang dimaksud dengan ribath dalam ayat quran dan hadits adalah menjaga pos-pos baik dalam kondisi perang maupun damai dalam bentuk keamanan militer. Namun, bagi yang memahami jihad dalam hal yang lebih luas, jika sebuah ilmu dapat digunakan untuk menjaga kedaulatan sebuah negara, maka orang yang mendalami dan menggunakan ilmu tersebut untuk menjaga kedaulatan negara dan Islam insya Allah dapat dikategorikan juga sebagai ribath. Apa lagi saat ini perang tidak lagi selalu dalam bentuk militer.
Artikel ini merupakan rangkuman Kajian Islam Kimochi edisi 151, sesi Serial Kajian Kitab Minhajul Muslim, yang disampaikan oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., MA. pada Ahad, 21 Juli 2019 M (18 Dzulqa’idah 1440 H) di Masjid Indonesia Tokyo.

Rekaman Kajian Islam Kimochi #151



Kontributor: Abdul Aziz