FikihKajian Islam Kimochi

Fikih Jihad (2)

Jihad merupakan pembahasan pertama pada Bab Muamalah dalam Kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Kitab Jihad ditulis oleh para ulama agar konsep jihad dalam Islam dapat tersampaikan dengan benar sesuai dengan Al-Quran dan Hadits.

Tujuan jihad dalam Islam adalah untuk (1) memberikan keamanan terhadap masyarakat Islam dan (2) memberikan jaminan agar pesan Islam dapat tersampaikan dengan benar kepada siapa pun, karena seluruh manusia berhak untuk mendapatkan pesan Islam serta kehidupan yang baik menurut Pencipta manusia.

Rukun Jihad

  1. Niat yang benar, yakni hanya karena Allah SWT dan bukan untuk keuntungan duniawi. Sebaliknya, keuntungan duniawi bisa didapatkan ketika niat hanya karena Allah SWT, sebagaimana yang ditunjukkan pada sirah Rasulullah SAW ketika negara di Madinah telah berdiri.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berperang dengan niat agar kalimatullah (Islam ini bisa jaya dan berdiri dengan tegak), maka ia berada di jalan Allah SWT”.

    Ada kisah seseorang yang turut berjihad bersama Rasulullah SAW namun beliau SAW mengatakan bahwa orang tersebut berada di neraka. Hal ini disebabkan karena niatnya turut berperang agar ingin menunjukkan bagaimana tangkas dan beraninya ia dalam berperang. Di akhir hayatnya, ia membunuh dirinya sendiri karena tidak kuat dengan rasa sakit yang ia derita.

  2. Jihad dilaksanakan di bawah (izin) pemimpin yang muslim.

    Dari sirah Rasulullah SAW dapat kita lihat bagaimana taat dan teguhnya para sahabat dalam mengikuti perintah Rasulullah SAW. Jihad tidak dilakukan secara sendiri maupun kelompok. Jangan sampai tindakan yang dianggap sebagai jihad malah berdampak negatif terhadap Islam itu sendiri akibat semangat berjihad yanag tidak tepat.

    Seorang muslim hendaklah taat kepada pemimpinnya (yang muslim), dalam masalah-masalah yang tidak bertentangan dengan Islam, dan selama pemimpin tersebut taat juga kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

  3. Menyiapkan bekal untuk berperang.

    Pada Quran Surah Al-Anfal disebutkan agar kita mempersiapkan segala kekuatan yang bisa dipersiapkan. Perbekalan bukan lah faktor utama untuk meraih kemenangan, namun tetap perlu dipersiapkan dengan baik.

  4. Izin (ridha) dari kedua orang tua pada kondisi peperangan tersebut tidak menuntut keikutsertaan seluruh penduduk.

    Seluruh penduduk perlu turut berperang ketika musuh telah memasuki wilayah negara Islam. Hal ini ditunjukkan sebagaimana Rasulullah SAW mewajibkan seluruh penduduk Madinah untuk turut berperang ketika musuh telah memasuki kota Madinah, kecuali beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga kota dan para wanita.

    Dalam sebuah hadits dikisahkan tentang seorang sahabat yang ingin ikut serta dalam sebuah jihad. Rasulullah SAW bertanya kepadanya terkait apakah kedua orang tuanya masih hidup? Ketika orang tersebut menyampaikan bahwa kedua orang tuanya masih hidup, Rasulullah SAW memerintahkan ia untuk berjihad membantu kedua orang tuanya tersebut.

  5. Taat terhadap pemimpin.

    Ekspedisi-ekspedisi kecil pada zaman Rasulullah SAW guna melihat kekuatan musuh dilakukan atas izin Rasulullah SAW. Sebelum imam/pemimpin memerintahkan untuk berperang, maka seorang muslim harus taat dan mengikuti perintah pemimpin, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

    Dalam sebuah hadits disebutkan barang siapa yang tidak menyenangi pemimpinnya, maka ia hendaklah bersabar dengan kondisi tersebut. Jika seseorang melepaskan ketaatan kepada pemimpinnya meski sejengkal saja dan kemudian ia meninggal, maka ia meninggal dalam kondisi jahiliyah.

Perkara-perkara yang wajib dilakukan dan syarat-syarat kemenangan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [٨:٤٥] وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [٨:٤٦] وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِم بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ [٨:٤٧] وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَّكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ [٨:٤٨] إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [٨:٤٩]

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, ‘Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata, ‘Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’” (QS Al-Anfal: 45-49)

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ [٨:٦٠]

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal: 60)

  1. Tsabat (teguh dan pendirian yang kuat). Kekuatan musuh tidak menurunkan keteguhannya. Salah satu dosa besar adalah lari dari peperangan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (QS. Al-Anfal: 15).

    Menurut penulis Kitab Minhajul Muslim, seorang muslim hendaklah bersikap tsabat ketika jumlah pasukan musuh tidak lebih dari dua kali lipat pasukan muslim. Jika jumlah pasukan musuh lebih dari itu, maka tidak mengapa mengambil pilihan untuk mundur dengan dasar Al-Quran Surah Al-Anfal ayat 65 dan 66. Pada awal ayat terkait ketentuan jihad disebutkan bahwa dua puluh orang yang sabar di antara pasukan muslim dapat mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah dua ratus orang (sepuluh kali lipat). Namun pada ayat yang turun setelahnya disebutkan bahwa seratus orang yang sabar dapat mengalahkan dua ratus orang pasukan musuh (dua kali lipat).

    Juga tidak mengapa jika mundur untuk mengatur kekuatan atau mengelabui musuh sebagaimana disebutkan pada Al-Quran Surah Al-Anfal ayat 16.

  2. Membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT sebagai dzat Yang Mahakuat dan Mahaperkasa dengan cara berdzikr, baik dengan hati maupun lisan.

    Seandainya Allah menghendaki, bisa saja jihad tidak diperlukan dengan mengirimkan malaikat untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Salah satu hikmah kewajiban berjihad ini adalah untuk mengangkat derajat orang yang beriman dan untuk mengetahui siapa yang benar-benar beriman atau tidak.

    Dzikr yang terbaik adalah yang ma’tsur. Beberapa di antaranya:

    • لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ

      “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah SWT.”

    • سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

      Lafaz ini disebut sebagai kalimat yang sangat dicintai oleh Allah SWT, ringan di lidah tetapi sangat berat timbangannya di hari akhir nanti.

    • سُبْحـانَ اللهِ وَبِحَمْـدِهِ عَدَدَ خَلْـقِه وَرِضـا نَفْسِـه وَزِنَـةَ عَـرْشِـه وَمِـدادَ كَلِمـاتِـه

    • لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

    Hendaklah berdzikr dengan benar-benar mentadabburi arti dzikr tersebut, agar hati dan hubungan dengan Allah SWT bertambah kuat.

  3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tidak melanggar perintah-perintah dan larangan yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah SAW masih hidup, posisinya sebagai rasul sekaligus imam.
  4. Menghindari perpecahan dan pertikaian (perbedaan). Dalam kondisi damai, perpecahan perlu dihindari, apatah lagi ketika dalam kondisi perang. Sesungguhnya Allah SWT mencintai mereka yang berperang di jalan Allah SWT dalam kondisi yang tidak berpecah belah sebagaimana sebuah bangunan yang kokoh (QS Ash-Shaf).
  5. Bersabar. Jika orang yang tidak beriman bisa bersabar, maka seorang mukmin hendaknya harus bisa bersabar lebih dari itu.
  6. Tidak bersikap sombong, merasa memiliki kekuatan yang lebih daripada musuh. Hal ini menjadi pelajaran dari kisah Perang Hunain menghadapi orang-orang Thaif, setelah Fathul-Makkah.
  7. Tidak bersikap riya, berperang karena ingin dilihat orang lain dan dianggap jago dalam berperang.
  8. Berperang untuk mengajak manusia ke jalan Allah SWT, bukan untuk menghalangi orang mendekat ke ajaran Islam.
  9. Tidak mengikuti bisikan-bisikan (ajaran) syaithan.
  10. Tidak bersikap nifak. Nifak merupakan sifat orang munafik, dimana mereka tampak baik di luar tapi busuk di dalamnya. Hal ini menjadi pelajaran dari Perang Uhud, dimana pada awalnya jumlah pasukan muslimin sebanyak 1000 orang. Namun ketika akan menghadapi musuh, 300 orang munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul mengundurkan diri dari pasukan.
  11. Bersiap siaga dengan persiapan matang dan maksimal, seperti kuda-kuda perang (zaman ini bisa berupa tank dan persenjataan lainnya). Kekuatan tersebut akan memiliki pengaruh yang besar, seperti menggetarkan musuh, meskipun perang belum dimulai.

    Pertarungan antara kekuatan al-haq dan al-bathil akan terus berhadapan hingga hari kiamat. Kita, selaku yang berada dalam barisan al-haq, hendak lah mengikuti arahan Allah SWT, termasuk di antaranya membangun kekuatan yang nyata guna meraih kemenangan.


Sesi Tanya Jawab

  1. Apakah latihan memanah dan berkuda masih relefan dengan kondisi saat ini?
    Dalam konsep jihad yang ada dalam negara Islam, pasukan terbagi dua; pasukan inti dan pasukan cadangan. Pasukan inti diatur pertama kali oleh Umar RA, dimana mereka digaji (dari baitul-maal) sebagaimana tentara saat ini. Yang menjadi pasukan cadangan adalah seluruh kaum muslimin. Latihan berkuda dan berenang berguna untuk melatih ketahanan fisik. Di beberapa negara, ada konsep wajib militer seperti di Korea. Hal ini pun bisa digunakan untuk membangun kekuatan fisik dan kemahiran dasar bagi penduduknya.
Artikel ini merupakan rangkuman Kajian Islam Kimochi edisi 152, sesi Serial Kajian Kitab Minhajul Muslim, yang disampaikan oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., MA. pada Ahad, 1 September 2019 M (1 Muharram 1440 H) di Masjid Indonesia Tokyo.

Rekaman Kajian Islam Kimochi #152



Kontributor: Abdul Aziz

Tags

Related Articles

Close