FikihKajian Islam Kimochi

Apa Lagi Setelah Haji?

Apa yang bisa kita dapatkan dari haji?

  • Janji Allah dan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits

    مَنْ حَجَّ ِللهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

    Barangsiapa berhaji karena Allah SWT, tidak melakukan rafats (pelanggaran-pelanggaran yang berhubungan dengan wanita) dan tidak melakukan dosa (secara umum), maka ia akan kembali seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya (tanpa dosa sama sekali).

  • Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Ibnu Umar RA (dihasankan oleh Syaikh Al-Albani), Rasulullah SAW menyampaikan hal-hal yang didapatkan dari tahap-tahap pelaksanaan haji. Kisah ini terjadi setelah haji pada musim haji dimana Rasulullah SAW berhaji (yaitu haji wada’), yakni ketika Ibnu Umar duduk Bersama Rasulullah SAW di Mina dan didatangi oleh dua orang sahabat; satu dari Anshar dan satu dari Bani Tsaqib (salah satu kabilah di Jazirah Arab).
    1. Jika kita keluar rumah dengan tujuan hanya untuk berkunjung ke Baitullah Al-Haram, maka setiap langkah (unta yang ditunggangi) dihitung sebagai satu hasanah dan diampuni satu kesalahan hingga tiba di tujuan.
    2. Melaksanakan dua rakaat (shalat sunnah) setelah tawaf akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala orang yang memerdekakan salah seorang dari Bani Ismail (dimana Rasulullah SAW merupakan salah satunya).
    3. Melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwa akan mendapatkan ganjaran seperti pahala orang yang memerdekakan hamba sahaya (darimana saja) 70 raqabah.
    4. Melaksanakan wukuf di Arafah akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Allah SWT memproklamirkan kepada para malaikat pada hari itu bahwa Allah akan mengampuni mereka (orang yang wukuf), merahmati mereka dan orang-orang yang mereka doakan.
    5. Melontar jumrah; setiap lontaran (satu batu) akan diampuni satu dosa besar.
    6. Nahr (menyembelih sembelihan; qurbani atau dam) akan disimpan oleh Allah SWT dan menjadi modal bagi yang bersangkutan di hari kiamat.
    7. Mencukur (habis atau pendek); setiap rambut yang dipotong akan dicatat satu kebaikan dan diampuni satu kesalahan.
    8. Ketika sudah memasuki tawaf ifadhah, akan datang malaikat dan berkata kepadanya, “Silahkan kamu berbuat apa yang kamu kehendaki karena Aku telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu.” (seperti yang dikatakan Allah SWT kepada Ahli Badr).
  • Selain hal-hal di atas, masih banyak balasan-balasan lain dari amalan-amalan lainnya selama pelaksanaan haji. Sebagai contoh, balasan berlipat untuk pelaksanaan shalat berjamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi.

Apa yang harus dilakukan setelah haji?

  • Bersyukur kepada Allah SWT. Sebab, kita bisa berangkat haji semata-mata karena rahmat, petunjuk, dan hidayah dari Allah SWT.
  • Selama beribadah haji, kita disunnahkan untuk selalu mengingat Allah dengan melafadzkan kalimat talbiyah. Salah satu tanda diterimanya amal adalah melakukan amal tersebut secara berkelanjutan (istiqamah). Karena itu, setelah haji pun harus selalu istiqamah dalam mengingat Allah, berdzikir, dan berdoa kepada-Nya.
  • Ibadah haji sebagai pelatihan tarbawiyah, imaniyah dan jihadiyah, dimana jamaah haji terikat pada aturan-aturan di luar aturan normal seorang muslim, yaitu ar-rafats, al-fusuq, dan al-jidal (berbantah-bantahan). Setelah pelaksanaan ibadah haji, hendaknya kita dapat lebih mematuhi dan menjalankan aturan-aturan Islam.
  • Beristiqamah di jalan Allah SWT hingga akhir hayat.
  • Memperhatikan sumber pendapatan agar selalu halal. Menurut jumhur ulama, salah satu syarat sah ibadah haji adalah jika dibiayai dari sumber (harta) yang halal.
  • Di dalam rangkaian ibadah haji, kita disunnahkan mandi dan kemudian berihram. Hal ini hendaknya mengingatkan kita akan kematian. Sementara berkumpulnya jamaah haji di Arafah hendaknya mengingatkan kita akan Yaumil Mahsyar. Pengalaman saat haji pun hendaknya dapat menguatkan kita dalam menghadapi tantangan kehidupan pasca haji, yakni dengan bersabar dan bertasbih kepada Allah (melakukan shalat).
  • Ibadah haji tidak hanya diwajibkan bagi umat Nabi Muhammad SAW, tapi juga kepada umat-umat terdahulu. Hal ini menunjukkan kesatuan risalah dimana risalah Nabi Muhammad SAW menjadi risalah yang terakhir. Karena itu, kita perlu mengimani para nabi dan kitab-kitab Allah.
  • Salah satu bekal yang perlu dibawa untuk haji adalah takwa. Takwa pun merupakan bekal terpenting untuk menghadapi kematian. Salah satu tujuan kita beribadah adalah agar menjadi insan yang bertakwa. Takwa juga menjadi modal untuk selalu tunduk kepada Allah SWT.
  • Sebelum ayah terakhir di rangkaian ibadah haji dalam Quran disebutkan bahwa ada berbagai macam orang yang melaksanakan ibadah haji; ada yang hanya meminta manfaat di dunia saja dan ada pula yang meminta manfaat untuk dunia dan akhirat serta berharap agar dihindari dari siksa api neraka. Kita diminta untuk tidak meninggalkan dunia tapi juga tidak melupakan akhirat.

Sesi tanya jawab

  1. Haji diperintahkan bagi yang mampu. Seandainya kita memiliki hutang (misal, untuk membayar cicilan rumah), apakah itu termasuk bentuk ketidakmampuan untuk berhaji?
    Hutang memiliki batas-batas jatuh tempo. Jika hutang tersebut tidak harus dibayar saat itu juga, sementara dia punya dana untuk berangkat haji, maka dia dianggap mampu untuk berangkat haji. Namun bila sudah jatuh tempo sehingga dana hajinya tidak mencukupi, maka dia dianggap tidak mampu.
  2. Jika kita melakukan kesalahan setelah melaksanakan haji, apakah ada yang salah dengan hajinya? Bagaimana cara untuk menjaga haji agar mabrur dan tidak melakukan kesalahan lagi?
    Para ulama tidak mendefinisikan haji yang mabrur sebagai orang yang ma’sum dari kesalahan. Sebagai manusia, peluang melakukan kesalahan akan selalu ada karena pertarungan antara manusia dan iblis berlangsung hingga kiamat. Untuk itu, perlu selalu meminta perlindungan kepada Allah SWT agar selalu dilindungi dari godaan syaitan.
    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyampaikan kisah tentang orang yang melakukan kesalahan lalu bertaubat dengan ikhlas (dan diterima), kemudian berbuat kesalahan lagi lalu bertaubat dengan ikhlas (dan diterima), sampai disebutkan 3 kali (3 kali dalam Bahasa Arab dianggap banyak, berulang-ulang). Dalam bertaubat hendaknya dilakukan dengan ikhlas, mengakui kesalahan tersebut dan berazam untuk menghindari kesalahan tersebut.
    Rasulullah SAW selalu beristighfar (meminta ampun kepada Allah SWT) sebanyak 100 kali setiap hari, meskipun beliau ma’sum telah diampuni kesalahannya oleh Allah SWT.
Artikel ini merupakan rangkuman Kajian Islam Kimochi edisi 137 yang disampaikan oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., MA. pada Ahad, 7 Oktober 2018 M (27 Muharram 1440 H) di Masjid Indonesia Tokyo.

Rekaman Kajian Islam Kimochi #137

> Sesi berbagi pengalaman bersama beberapa jamaah haji 1439H
> Sesi materi oleh Ustadz Jailani Abdul Salam, Lc., M.A.


Kontributor: Abdul Aziz

Tags

Related Articles

Close
Close